Musik / Kapsul Waktu

Di lagu “I Want Wind to Blow” dari Phil Elverum, ia menulis rangkaian abstrak untuk mengungkap patah hatinya:

There’s no black or white
No change in the light
No night, no golden sun
The sound of cars
The smell of bars
The awful feeling of electric heat
And the fluorescent lights
There’s sacrifice
There’s hard feelings
There’s pointless waste

-yang menurut saya adalah puisi yang menyentuh dan relatable. Tapi lirik yang sangat personal mungkin adalah kelemahan dari Phil Elverum, karena keindahannya tertutup badai instrumen penuh kejutan dan komposisi unik dari musiknya. Gitar nada rendah di awal yang bersambung ke melodi tinggi, dengan drumming imersif yang semakin menggema, produksi murah yang disertai gema apartemen, dan delay yang membuat semuanya mengalir seperti air deras. Tanpa mendengar liriknya, ini adalah lagu paling monumental indie lo-fi saat itu; dengan lirik dan vokal, ini adalah lagu emosional yang bisa menyentuh rasa gundah terdalam. Namun sebuah lagu bisa meninggalkan kesan, positif atau negatif, lebih besar jika kita mengetahui konteks, proses pembuatan, dan hidup dari si penulis saat membuat lagu. Di “I Want Wind to Blow”, kamu bisa melihat bagaimana pengaruh musik black metal dan ambient, yang saat itu juga sedang berkembang, atau pengaruh tren rekaman lo-fi di 16 track tape analog, atau metafora apa yang dipilih Phil muda saat menutur cintanya, bagaimana pribadinya saat itu, bagaimana cuaca di Washington, dan lain-lain. Mendalami lagu, di luar komposisi dan lirik, seperti membuka kapsul waktu.

Khusus Phil Elverum, yang merilis banyak album dengan project musiknya The Microphones dan Mount Eerie, ada seperti 6 atau 7 kapsul waktu yang kita bisa buka satu persatu, melihat evolusi penulisan liriknya yang menjadi amat deskriptif, musik lain yang dipengaruhi, bagaimana ia merangkai elemen vokal dan komposisi dalam lagu, perjalanan hidupnya, kesepiannya, kematian istrinya, pernikahan keduanya, perceraiannya, isi pikirannya selama 20 tahun lebih.

Phil Elverum, Geneviève Castrée, dan anak mereka

Sebagai pendengar musik, kita memiliki hak istimewa untuk mengulik itu semua, untuk membaca konteks dan melihat lebih dalam, menggenggam dan merasakan hidup seseorang dengan hanya mendengarkan lagu-lagunya, ditambah melihat budaya musik atau teknis saat pembuatan lagu, dan semua perbedaan yang mengiringinya di karya-karya selanjutnya.

Ada satu artis yang menurut saya diskografinya sangat menarik untuk digali, dengan deretan karya besar, ia juga merilis album di tahun 2021, yaitu Lana Del Rey.

Diskografi Lana Del Rey

Lana Del Rey bukanlah nama yang besar saat merilis album perdana di bawah nama Lizzie Grant, namun ia secara mandiri merilis videoklip untuk single “Video Games”, yang viral dan mengantarnya untuk tandatangan dengan Interscope.

Lana Del Rey — Video Games

Di album pertama ini ada satu ciri khas Lana yang membentuk image-nya sampai sekarang, yaitu kecenderungannya untuk meromantisasi Amerika tahun 50–60-an, menjadi submisif dalam percintaan, dan produksi musiknya yang unik terpisah dari dance music yang mewarnai pop di tahun 2011/2012.

Melihat ke belakang, Interscope berusaha menjadikan Lana Del Rey sebagai ratu musik alternatif yang saat itu juga banyak dipromosikan (the Lumineers, Florence and the Machine). Menurut saya, album ini dan EP tambahan Paradise masih belum merealisasikan visi Lana Del Rey. Secara persona, ia baru memantapkannya di album Ultraviolence.

Lana Del Rey — West Coast

Ultraviolence adalah kapsul waktu yang unik dari tahun 2014, karena suaranya yang menjauh dari keramaian EDM tahun tersebut, Lana membuat pelirikan dan nuansa yang lebih gelap dan vulgar, sentuhan musik jazz dan psychedelic rock, menegaskan dirinya sebagai connoisseur Amerika klasik, Brooklyn Baby, Sad Girl, Guns and Roses.

Kontrol yang dimiliki Lana atas proyeknya semakin kuat di dua album selanjutnya, Honeymoon dan Lust for Life, di mana Lana menunjukkan perubahan setiap album seperti titik-titik baru hidupnya. Honeymoon adalah sisi Amerika retro yang berbeda dari Ultraviolence, album dengan emosi lebih halus dan iringan baroque pop, dengan elemen trip hop yang menampakkan modernitas. Lust for Life adalah evaluasi atas dua cinta buta sebelumnya, era Lana yang paling kontemporer, dengan pengaruh hip-hop yang prominen dan cover foto Lana yang tersenyum, evolusi penuh dari sentimen suicidal di Born to Die. Elizabeth Woolridge Grant, dan buah persona-nya yang berubah.

Lana Del Rey — 13 Beaches

Apa yang membuat Lana memilih perubahan itu? Pengaruhnya banyak, dari segi produksi, kolaboratornya berganti dari berbagai kalangan, rock ataupun pop, dari Dan Auerbach atau Max Martin, dari A$AP Rocky, Alex Turner sampai Jack Antonoff — di album Norman Fucking Rockwell!, album paling sempurna Lana Del Rey.

Norman Fucking Rockwell!, walaupun baru berumur 2 tahun, adalah kapsul waktu paling lengkap dari semua karya LDR. Album yang menunjukkan kedewasaannya dalam menulis lirik, dalam produksi, dan dari nyanyian yang semakin indah. Tidak hanya narasi dan konten di dalamnya, setelah album ini, Lana melebarkan jangkauan bakatnya ke teater, tulisanpuisi spoken words, dan puisi. Lana, yang di awal karirnya berusaha mencari autentisitas, kini sudah meraihnya.

Lana Del Rey — Norman F***ing Rockwell

Album barunya yang dirilis tahun 2021, Chemtrails dan Blue Banisters, adalah bukti bahwa Lana Del Rey sudah berada di titik nyaman dalam berekspresi. Pisau-pisau kritik yang mengarah ke dua album tersebut tidak akan melukai Lana, tujuh album dan ia sudah mengabadikan dirinya dalam dunia musik modern. Di Blue Banisters bahkan, ia memakai lagu yang sudah dibuat bertahun-tahun sebelumnya, dengan lagu-lagu baru yang bervariasi, ini album paling unik darinya.

Lana Del Rey — Dealer

Untuk artis dengan katalog sebesar dan seberagam Lana Del Rey, menilik detail kecilnya adalah keistimewaan. Pendengar musik yang memperhatikan konteks, semua bagian yang mempengaruhi musik di belakang layar, sebelum lagu itu dinyanyikan, sebelum ditulis, saat ditulis, akan sangat mengapresiasi perjalanan dari artis-artis yang konsisten merilis karya dan mendorong batasan dirinya, merubah suara, mengikuti tren, atau menciptakan tren, musisi seperti Lana Del Rey, yang karyanya progresif dan teraduk berbagai aliran. Memperhatikan ini, akan membuat pendengar musik lebih mengerti kenapa sebuah band mengubah suaranya, atau mengapa suaranya monoton tidak berubah, mengerti kenapa artis terus-menerus membuat lagu dari kisah cinta yang hancur, mengapa ada yang butuh bertahun-tahun sebelum merilis karya baru, mengapa ada yang sampai bubar. Memperhatikan musik seperti ini, seperti membuka kapsul waktu, sebuah perspektif lain untuk pendengar musik.

Personal blog for writings about music.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.